Oleh: Ery Irvianty
(Guru Kimia SMAN 3 Sukabumi)
Sebagai seorang pendidik, saya mengamati sebuah fenomena menarik yang kini akrab disebut "Generasi Stroberi". Apa makna dari ungkapan ini. Julukan ini disandangkan pada sebagian generasi baru yang lunak seperti buah stroberi. Kenapa Stroberi? karena stroberi merupakan buah yang tampak indah dan eksotis, tetapi begitu dipijak atau ditekan ia akan mudah sekali hancur.
Istilah ini merujuk pada generasi muda yang secara kasat mata terlihat cemerlang, cerdas, dan penuh potensi, namun di balik potensi kecerdasan dan kecemerlangannya, tersimpan kerapuhan mental yang mudah retak. Mereka mudah menyerah saat dihadapkan pada kesulitan, rentan terhadap kritik, dan gampang sakit hati ketika menghadapi tekanan. Mengapa anak-anak yang dibesarkan di era serba maju ini justru menjadi begitu rapuh? Munculnya generasi strawberry ini tidak terlepas dari peran orang tua, lingkungan dan orang dewasa dalam mendidik dan mempengaruhi generasi tersebut. Pola asuh orang tua dan orang-orang dewasa I di sekelilingnya serta diinamika kehidupan di era teknologi modern yang menyajikan berbagai kemudahan dalam hidup Mereka, merupakan dua faktor yang saling berkaitan.
Jerat Over-Parenting dan Kesenjangan Tanggung Jawab
Faktor pertama dan yang paling mendasar adalah rasa khawatir berlebihan dari orang tua. Kecemasan yang tak terkendali ini memicu munculnya gaya over-parenting atau yang sering disebut Helicopter Parenting, di mana orang tua menjadi sangat dominan dan cenderung mengambil porsi terlalu besar dalam setiap aktivitas dan pengambilan keputusan anak. Secara sadar atau tidak, orang tua mengambil alih tugas-tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawab anak, mulai dari menyiapkan kebutuhan sekolah hingga mengatur jadwal belajar mereka.
Dampak langsung dari dominasi orang tua ini adalah terkikisnya rasa tanggung jawab pribadi dan ketahan malangan (Adversity Quotient) anak. Ketika orang tua selalu siap sedia menjadi "penyelamat" atau "pengingat", anak tidak pernah benar-benar belajar menanggung konsekuensi dari kelalaian atau kegagalan. Akibatnya, mereka tumbuh tanpa bekal mental untuk menghadapi kesulitan. Begitu mereka merasakan tekanan sedikit saja, respons alaminya adalah menyerah atau menghindari masalah, sebab mereka tidak pernah dilatih untuk berjuang dan bangkit dari keterpurukan.
Dampak Ganda Era Digital
Selain intervensi orang tua, digitalisasi dan teknologi informasi memberikan andil yang tidak sedikit. Kemudahan yang ditawarkan oleh perangkat digital dan akses informasi instan telah menciptakan sebuah dunia serba mudah, di mana tantangan fisik dan mental terasa berkurang. Anak-anak terbiasa mendapatkan apa pun secara cepat tanpa harus melewati proses panjang atau merasakan sulitnya berjuang, yang secara tidak langsung melemahkan daya juang mereka ketika menghadapi masalah di dunia nyata.
Contoh kecil dalam ekosistem sekolah melalui penggunaan media sosial, khususnya grup WhatsApp Wali Murid. Tujuan awal pembuatan grup ini tentu positif, yakni untuk mempermudah komunikasi, layanan informasi, dan koordinasi antara sekolah dan orang tua. Namun, tanpa disadari, grup ini telah menciptakan dampak negatif yang serius terhadap kemandirian siswa, terutama di tingkat SMP dan SMA.
Keberadaan grup WA wali murid membuat siswa merasa aman dan abai terhadap informasi yang disampaikan guru secara langsung di kelas. Mereka berpikir, "Tidak apa-apa kalau lupa, karena informasinya pasti sudah ada di grup yang dipantau orang tua." Alhasil, yang sibuk merespons pengumuman, instruksi tugas, hingga urusan administrasi sekolah bukanlah siswa sebagai subjek utama pendidikan, melainkan para orang tua mereka.
Kebiasaan yang mungkin masih bisa ditoleransi di usia SD ini, sayangnya, terus berlanjut hingga jenjang SMA. Siswa terbiasa "disuapi" informasi, dibantu merespons, dan dihindarkan dari risiko lupa atau lalai. Mereka tidak pernah merasakan getirnya menerima konsekuensi (misalnya nilai nol karena lupa mengerjakan tugas atau teguran) karena kesalahan pribadi. Banyak contoh lain yang menguatkan mentalitas ketergantungan dan menjauhkan mereka dari pemahaman bahwa setiap tindakan pasti memiliki risiko yang harus ditanggung secara mandiri.
Mengembalikan Porsi Tanggung Jawab
Untuk memutus siklus kerapuhan ini, orang-orang dewasa disekitar Mereka (Orang tua dan Guru) perlu segera mengambil peran sesuai porsi. Peran protektif harus bergeser menjadi fasilitatif. Alih-alih bertindak sebagai cleaner yang membersihkan semua hambatan di jalan anak, kita harus menjadi coach yang melatih anak dapat menghadapi hambatan itu sendiri.
Langkah konkretnya adalah dengan memberikan tanggung jawab secara bertahap sesuai usia mereka, sekalipun anak harus berkali-kali menghadapi kegagalan kecil. Jika anak belum bisa melakukan sesuatu dengan benar, biarkan mereka belajar dari kesalahan, biarkan mereka menerima resiko jika abai. Kesalahan adalah guru terbaik, dan resiko adalah penempa karakter yang efektif.
Pada akhirnya, kunci untuk membangun Generasi Stroberi yang tangguh adalah dengan melatih mereka berjuang. Latih anak untuk menghadapi kehidupan nyata yang keras, yang tidak selalu bisa disandarkan pada orang lain, apalagi terus-menerus mengandalkan jaring pengaman berupa orang tua. Hanya dengan memberikan ruang bagi anak untuk gagal, bertanggung jawab, dan bangkit, kita dapat menempa mereka menjadi pribadi yang kuat, layaknya baja, bukan sekadar stroberi yang indah namun rapuh.
Wallahu A’Lam….

EN
ID
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!