Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Dalam kisah ajaran agama Islam ada satu nama yang cukup populer. Ia adalah Rabi’ah Al Adawiyah, identik seorang sufi perempuan dengan totalitas hidupnya hanya cinta kepada Allah. Ia adalah pribadi yang tidak takut pada Neraka dan tak tergoda Surga. Ia hanya al mahabbah kepada_Nya.
Bagi Al Adawiyah dalam pikiran dan perasaannya, Surga dan Neraka tidak ada, yang ada hanya Allah saja. Semua perbuatan yang Ia lakukan bukan karena ingin Surga atau takut Neraka. Semua yang Ia lakukan semata mata karena Al mahabbah, cinta total pada Allah.
Pikiran dan perasaan Al Adawiyah penuh oleh rasa cinta. Meminjam istilah Nicola Tesla, hanya ada energi, vibrasi dan frekuensi cinta kepada_Nya. Selain kepada_Nya tidak ada fokus dan cinta. Bahkan dalam sebuah kisah dikatakan Al Adawiyah tak bisa membenci Syeitan, karena dalam pikiran dan perasannya hanya ada cinta kepada_Nya. Tidak ada energi membenci.
Bahkan Ia pun tidak punya energi untuk mencintai Nabinya. Mengapa? Karena energi, vibrasi dan frekuensi dirinya hanya ada untuk Ia yang paling dicintainya. Kecintaan kepada makhluk selain Allah tidak ada dalam dirinya. Bahkan mengapa Ia tidak menikah? Karena Ia tidak bisa mencitai seorang lelaki, cintanya habis sama Allah yang menguasai pikiran dan perasannya.
Ada ungkapan “Cinta kepada apa pun akan menjadi palsu jika tidak berbingkai rasa cinta atas-Nya”. Mahabbahnya Al Adawiyah agak atau sangat sulit kita ikuti. Cinta mendalam, totalis dan mampu mengabaikan rasa cinta kepada selain_Nya tentu sangat tak mudah. Kita semua kebanyakan mendua atau mentiga. Cinta yang mendu kepada Allah dan kepada makhluk Allah.
Pepatah bijak mengatakan “Bila kita sangat mencintai suatu hal selain Allah identik dengan menduakan_Nya’. Apa hukum menduakan_Nya? Bisa jadi syirik asghar perbuatan yang mengurangi kemurnian tauhid, mensejajarkan Allah dengan ciptaan_Nya. Waspada kekaguman, fokus dan mimpi kita kepada selain Allah. Pastikan segala hal selain Allah hanyalah asbab menguatkan cinta kepada_Nya.
Mari belajar pada Al Adawiyah benar benar zero dari rasa cinta pada selain Allah, dan zero dari rasa benci karena hanya ada satu rasa yakni cinta. Bagi Al Adawiyah bisa jadi orang yang merindukan Surga, dunia dan apa pun selain Allah adalah prosesi menduakan Allah yang tidak kita sadari. Mari kita hanya rindu dan cinta kepada_Nya. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Hanya kepada_Nya, bukan kepada yang lain.
Al Adawiyah adalah pribadi yang Tidak mampu mencintai yang lainnya karena cintanya hanya untuk Allah. Ada ungkapan mengatakan “Bila ingin mencari ridha Allah, hanya ada satu syaratnya, yakni lakukan karena cinta_Nya”. Hindari melakukan apa pun selain karena cinta kepada_Nya. Cinta di atas semua dogma, kitab suci dan agama. Semua agama dan dogma adalah “alat” menghantarkan cinta_Nya.
EN
ID
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!