Oleh : Rini Restu Handayani, S.Pd., M.Pd., Guru BK SMAN 3 Sukabumi
Saat Anak Kita Harus Jadi “Kuat” di Tengah Sistem yang Belum Siap
Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang dilaksanakan pada 3–6 November 2025 kemarin menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi kami; para guru, orang tua, dan tentu saja siswa kelas XII di seluruh Indonesia. Bukan hanya karena ujian ini menuntut kemampuan akademik tinggi, tetapi juga karena beban emosional dan tekanan mental yang harus dihadapi anak-anak kita dalam waktu persiapan yang begitu singkat.
Sejak diluncurkannya TKA oleh Kemendikdasmen, waktu yang tersedia untuk mempersiapkan siswa benar-benar terbatas. Kami, para guru, berusaha keras menyesuaikan pembelajaran, menyusun latihan, hingga memberi bimbingan tambahan. Namun, realitanya, banyak siswa yang masih merasa tertekan, cemas, dan takut menghadapi ujian ini.
Lebih menyulitkan lagi, beberapa materi yang diujikan ternyata adalah materi yang seharusnya baru diajarkan pada semester genap, padahal TKA dilaksanakan di semester ganjil. Ironis, bukan?
Sebagai guru, saya bisa merasakan bagaimana semangat anak-anak perlahan goyah. Mereka bukan tidak mau berusaha, justru mereka berjuang keras, belajar sampai larut malam, mencoba memahami materi yang belum sempat diajarkan. Tapi ketika menghadapi ketidakpastian sistem, rasa lelah mereka berubah menjadi kekecewaan.
Yang lebih menyedihkan, selama pelaksanaan TKA beredar kabar di media sosial tentang dugaan kebocoran soal, bahkan ada siswa yang melakukan siaran langsung (live) di TikTok saat ujian berlangsung. Beberapa rekan guru pengawas juga menyampaikan bahwa soal yang muncul di beberapa sesi dan gelombang ternyata masih ada yang sama persis.
Hal ini jelas meruntuhkan semangat kejujuran yang selama ini kami tanamkan pada siswa. Bagaimana rasanya bagi anak yang sudah belajar sungguh-sungguh, ketika tahu ada pihak lain yang mungkin mendapat “jalan pintas”?
Sebagai orang tua, saya hanya bisa menatap anak-anak kita dengan campuran perasaan bangga dan iba. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi sistem yang seharusnya melindungi mereka justru belum sepenuhnya siap. TKA yang seharusnya menjadi alat untuk mengukur capaian akademik yang objektif dan menjadi alat validasi nilai rapor untuk seleksi nasional berbasis prestasi, malah meninggalkan banyak tanda tanya: apakah benar pelaksanaannya sudah adil dan proporsional?
Saya percaya, niat pemerintah tentu baik, ingin menata seleksi nasional agar lebih objektif. Tapi niat baik harus diiringi dengan perencanaan matang. Jangan sampai anak-anak kita menjadi korban dari kebijakan yang belum siap dijalankan. Pendidikan bukan ruang eksperimen, dan siswa bukan bahan uji coba.
Harapan saya sederhana: semoga ke depan pemerintah dapat lebih bijak, transparan, dan berpihak kepada peserta didik. Beri mereka ruang untuk tumbuh dalam sistem yang adil, manusiawi, dan bermartabat. Karena pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan hanya mencetak nilai tinggi, tetapi membentuk manusia yang jujur, tangguh, dan berintegritas.
EN
ID
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!