Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Sejumlah pengamat pendidikan di sejumlah daerah berkesimpulan hampir sama. Apa kesimpulan itu? Kesimpulan tentang sejumlah sekolah favorit tetap bertahan menjadi yang terbaik karena variabel input murid.
Benarkah sekolah favorit tetap menjadi yang terbaik di suatu daerah karena asupan murid muridnya? Jawabannya bisa benar, bisa juga kurang benar. Mengapa? Bukankah ada peran guru dan kepala sekolah di dalamnya?
Sejumlah pengamat mengatakan diantara alasan variabel input murid menjadi penentu adalah sebagai berikut: pertama, murid yang masuk dari sekolah terbaik. Murid murid alumni sekolah terbaik memilih sekolah lanjutan terbaik. Kualitas murid dari sekolah favorit, masuk sekolah favorit.
Kedua, murid yang lahir dari keluarga berpendidikan dan ekonomi mampu. Bahkan ada sejumlah orangtua yang pekerjaan dan kualitas orangtuanya berada di atas pendidikan guru gurunya. Pasangan orangtua terdidik baik dan ekonomi mapan adalah istimewa.
Ketiga, murid walau bukan dari ekonomi dan keluarga mapan secara ekonomi tapi punya prestasi. Murid yang masuk melalui jalur prestasi adalah asset sekolah. Ia adalah bagian dari murid andalan sekolah ketika ada berbagai giat prestatif. Nama sekolah akan “terjaga” oleh mereka.
Keempat, murid yang masuk sekolah favorit cenderung punya cita cita dan impian diri dan keluarganya. Mereka punya maksud, niat dan serius untuk belajar karena masa depan lebih baik dalam targetnya. Tidak asal berangkat ke sekolah dan asal belajar.
Kelima, sejumlah murid dari sekolah favorit mengambil les atau belajar tambahan di luar sekolah. Orangtua sangat memfasilitasi. Murid mengambil ijazah dari sekolah favorit, mengambil “ilmu” masuk ke PTN ternama dari bimbel yang fokus dan punya trik sendiri.
Bila kelima variabel di atas adalah dianggap benar, maka ini tantangan berat bagi entitas GTK di sekolah favorit. Mengapa jadi tantangan berat? Karena GTK di Sekolah Favorit Dianggap Sekunder. GTK di sekolah favorit harus dan wajib membuktikan bahwa keberadaan mereka jauh lebih primer dari variabel lainnya.
Setidaknya ada beberapa langkah yang harus dilakukan GTK, terutama guru. Pertama, jadilah guru yang punya kemampuan akademik dan non akademik yang mumpuni. Mata pelajaran yang diampu harus benar benar dikuasai. Jangan kalah sama guru bimbel. Plus ada hal non akademik yang disukai murid.
Kedua, pastikan guru tidak pernah terlambat atau malas malas melayani murid, di dalam kelas atau di luar kelas. Bila murid menanti kehadiran Sang Guru karena asyik, menarik dan menginspirasi, sungguh wow! Pastikan sekolah dan ruang kelas berada dalam otoritas edukatif guru.
Ketiga, pastikan kehadiran Sang Guru “melekat” pada murid secara emosional. Saat KBM atau di luar KBM tetap “mem_bestie” dengan murid. Pastikan apresiasi, pujian, pendampingan dan motivasi penuh cinta, mudah meluncur untuk murid dari Sang Guru. Tanda guru terbaik, gadget ditangan Sang Murid akan segera disimpan ketika Sang Guru jadir, karena lebih menarik.
Keempat penampilan Sang Guru wajib terlihat sehat, berkharisma dan memesona. Tidak tampil sembarangan dan kumel. Apalagi pakai sendal jepit, kaos oblong. Mulai dari atas rambut sampai ujung kaki, Sang Guru harus terlihat sehat dan baik. Hade gogog, hade tagog, demikan kata KDM.
Kelima pastikan sejumlah guru bisa meraih sejumlah prestasi. Plus kepala sekolahnya. Bahkan prestasi lain yang sifatnya publikatif. Misal menulis di media mainstream, jadi narsum, jadi MC, jadi penda’wah, seniman, olahragawan, jadi tokoh masyarakat, influenser dll. GTK yang punya keunggulan penting bagi sekolahan.
Tantangan sekolah favorit sangat tak mudah. Tak mudah mempertanggung jawabkan nama. Nama yang bisa saja tetap menjadi yang terbaik karena murid murid yang hebat, atau GTKnya yang wow. GTK dan murid terbaik lahir dari cinta, kesadaran dan Lillah. Bila keduanya (guru dan murid) hebat, sekolah favorit akan tetap favorit.
EN
ID
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!