Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Indonesia adalah negara dengan keragaman budaya luar biasa. Termasuk “keragaman” dinamika dunia guru dan murid muridnya. Hal paling menarik pekan ini adalah guru dikeroyok murid muridnya.
Kok bisa murid mengeroyok guru? Kok bisa guru dikeroyok murid? Ada apa dengan guru yang dikeroyok? Ada apa dengan murid yang mengeroyok? Tentu saja ada masalah, dan masalah itu ada di keduanya.
Ada ungkapan klasik “Tidak ada asap kalau tidak ada api”. Apa sebenarnya yang menjadi “api” terjadinya pengeroyokan? Api ini lah sebenarnya yang menyebakan tersulutnya amarah pengeroyokan.
Dari mana api itu muncul? Apakah dari Si Guru atau Si Murid? Terlepas dari siapa yang melontarkan api sehingga melahirkan asap, kejadian pengeroyokan sebaiknya tidak terjadi. Faktanya sudah terjadi.
Diantara keduanya (guru dan murid) harus introsfeksi bahwa sangat tak baik adanya kekerasan dalam bentuk pengeroyokan. Introsfeksi terbaik adalah dari pihak guru sebagai orang dewasa. Pihak murid pun perlu introsfeksi sebagai murid.
Siapa lagi yang harus introspeksi dan evaluasi diri? Kepala sekolah dan semua GTK yang ada di sekolahan. Terutama orang orang dewasa yang ada di sekolahan wajib evaluasi dan introspeksi mendalam.
Iklim sekolah sangat tergantung pada orang orang dewasa yang ada di dalamnya. Terutama kepala sekolah harus menjadi pemimpin satuan pendidikan yang melahirkan iklim sekolah sesuai Permendikdasmen No 6 Tahun 2026.
Murid murid yang mengeroyok guru pasti masuk kategori ABK, murid berkebutuhan khusus. Perlu layanan khusus bagi murid yang punya kelainan. Guru sebagai orang dewasa yang lebih berkesadaran harus mampu mengendalikan murid murid berkebutuhan khusus.
Lebih bahaya bila gurunya “ABK” dan muridnya ABK. Bahaya bila ada guru dengan mudah melontarkan kata kata menyakitkan bagi murid, walau pun tujuannya memotivasi. Plus didengar dan ditujukan pada entitas anak ABK. Apa yang terjadi? Konflik.
Menarik motivasi dari Dr. Firman Oktora, praktisi pendidikan Jawa Barat. Ia mengatakan betapa pentingnya setiap guru untuk lebih banyak “Mendengarkan dan mendo’akan”. Mendengarkan harapan dan aspirasi murid serta mendoakannya selalu.
Hubungan guru dan murid adalah hubungan asah, asih, asuh dari hati yang paling dalam. Setiap guru wajib lebar hati, luas wawasan, ikhlas berbuat demi sukses murid muridnya. Bila ada murid bermasalah anggap sebagai “media” perbaikan profesi, kuliah gratis.
Pepatah bijak mengatakan “Bila ada konflik antara orang dewasa dan anak, maka orang dewasalah yang harus mengerti, memahami dan mema’afkan. Waspada! Anak tak pernah salah dan orang dewasa akan selalu disalahkan.
EN
ID
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!